tatkala ketiadaan kema[mp]uan

Friday, 23 April 2010

Hati-hati !!!
Mungkin kita sering mendengar kalimat (frase) tersebut. Dua kata yang sering diucapkan oleh orang tua, saudara, saudara orang tua, orang tua dari orang tua, sahabat, orang lain, dan orang-orang yang mengucapkan hal tersebut pada kita. Dua kata yang senantiasa menemani kita dalam menjalani segala aktivitas keseharian, dua kata yang selalu dikatakan saat-saat terakhir dalam sebuah perjumpaan, dan dua kata yang tidak asing dari seseorang ke manusia yang lain.

Hati-hati !!!
Kita sering mendengarnya, tetapi apakah kita sering memahaminya?
Hati-hati, tentu bukan sekedar berhati-hati ketika di jalan raya, tentu bukan sekedar berhati-hati dalam sebuah pergaulan, dan tentu saja bukan sekedar berhati-hati ketika bertemu dengan orang asing. Kita selayaknya sudah akrab dalam makna ini. Kata yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, kata yang memiliki makna lebih dalam dari katanya. Sebagian dari makna itu adalah hati-hati dalam berfikir, hati-hati dalam berkata, hati-hati dalam bertindak, dan hati-hati dalam berdoa.

Hati-hati !!!
Ketika kita melaksanakan ujian di kelas (sekolah), orang tua kita selalu berpesan "hati-hati dalam mengerjakan soal". Kenapa mereka tidak berkata "pikir-pikir dalam mengerjakan soal" ?
Ketika kita akan pergi dari tempat dan waktu orang tua kita, mereka juga berpesan "hati-hati dalam perjalanan", mengapa mereka tidak berpesan "pikir-pikir dalam perjalanan" ?

Hati-hati atau Pikir-pikir ?
Apabila kita kerucutkan arti hati dalam perasaan, dan arti pikir dalam logika, maka kita akan menemukan posisi makna akan kehadiran kata tersebut. Manusia merupakan makhluk spiritual yang bermateri, memiliki kemampuan dalam mengimpresi sesuatu di luar dirinya. Sesuatu yang tercerap indera, sesuatu yang masuk dalam logika, dan sesuatu yang diyakini dalam hati. Tentu kita mengenal pikiran kita dengan sangat baik, karena kita telah melatihnya sejak kita berusia 6 tahun. Kita mampu menilai benar-salah, indah-jelek, dan baik-buruk sesuai dengan pengetahuan pikiran kita, logika kita. Di lain sisi, lebih banyak petuah, wejangan, nasehat, kata-kata bijak, yang memposisikan perasaan lebih tinggi nilainya daripada pikiran. Tradisi yang tertinggal dan sedang dan masih berjalan membuktikan hal tersebut.

Pikir-pikir !!!
Kemudian mana yang lebih utama? mana yang lebih pertama? "hati-hati" atau "pikir-pikir" ? Bagaimana seandainya pesan kedua orang tua kita adalah pikir-pikir di jalan! pikir-pikir dalam bertindak! pikir-pikir dalam bergaul! pikir-pikir ketika bertemu orang asing! dan pikir-pikir dalam berdoa! Aneh, tapi kita tidak tahu konsekuensinya seumpama kalimat tersebut yang diucapkan kepada kita.

Pikir-pikir !!!
Tentu saja untuk melakukan "hati-hati" kita perlu "pikir-pikir" dan apakah juga berlaku untuk sebaliknya, untuk melakukan "pikir-pikir" kita perlu "hati-hati" ?


salam
bukanlah merasa bisa, melainkan bisalah merasa

Gosokan id terhadap Gesekan ego

Wednesday, 31 March 2010

Bukanlah gantung cita-citamu setinggi langit, melainkan tanam cita-citamu kedalam tanah.
Langit, dalam astronomi memiliki arti suatu lapisan pemisah antara keberadaan gas dengan ketiadaan gas. Keadaan langit sendiri merupakan gas dan juga non gas. Karena langit merupakan gradasi wilayah keduanya. Langit bisa menjadi keberadaan benda-benda angkasa (pengertian konvensional) dan juga menjadi keberadaan bumi (pengertian konservatif). Tak terlepas dari makna keduanya, sebagian besar manusia menggantungkan cita-citanya pada langit, setinggi langit. Apabila langit memiliki pengait, dimana pengait untuk menggantungkan cita-cita? Apabila penggantung letaknya di atas, Atas kita (manusia yang ada di Indonesia) berbeda dengan atas mereka (manusia yang ada di Australia, Asia, Eropa, Amerika, Afrika). Apabila cita-cita dimaknai perjalanan hidup manusia, dan apabila cita-cita di langit, maka sebagaimana manusia dengan langit, manusia akan jauh dalam perjalananNya. Andaikata cita-cita ditanam dalam tanah, maka manusia dengan mudah akan mencari tempat untuk menanamnya, memupuknya, mengairinya, dan tentu saja manusia akan senantiasa bersamaNya.

Takdir tak dapat diubah, tetapi nasib dapat diubah. Apakah demikian maknanya? Manusia dikutuk untuk bebas. Kita bebas untuk melakukan apapun, kita bebas untuk berfikir apapun, dan kita bebas untuk berharap apapun. Kebebasan ini terletak pada takbebasan lingkungan. Bukan karena konsekuensi yang mengekang kebebasan atau kebebasan yang bertanggung jawab, melainkan perlibatan kebebasan dalam diri manusia. Hasil dari perbuatan? tentu saja beriringan dengan perbuatan, lalu apakah bisa diubah? Kemudian, 'apa yang terjadi' juga tidak bisa diubah? keputusan, kebijakan, kebijaksanaan, kita ada untuk memilih.

Pilihan bukanlah suatu hal yang sederhana, pilihan bukanlah sesuatu hal yang rumit, dan pilihan bukanlah suatu hal yang harus. Kita memilih bukan karena resiko yang lebih sedikit dan kecil, kita memilih bukan karena keuntungan yang besar dan kebaikan laten, dan kita memilih bukan karena tidak ada pilihan. Menentukan dan penentuan perjalanan hidup dan mati kita terlibatkan dalam situasi dan kondisi yang ada dan berada.

Apabila kehidupan kita sebuah garis, dan ada titik di depan sebagai cita-cita yang harus digapai dan dicapai, maka tentunya kita bukan personal yang berdiri sendirian. Kita sesosok makhluk yang hidup berdampingan dan bersinggungan dengan yang lain. Kebijakan dan kebijaksanaan kita merupakan gesekan dan gosokan dengan sesuatu di luar diri kita secara individu. Dengan senantiasa menggosok keputusan dalam asahan pilihan perjalanan hidup dan kehidupan, maka keterlibatan aksi yang diikuti reaksi yang sama besar dan berlawanan arah akan menjadi utuh. Garis bukanlah hubungan dari dua titik, titik bukanlah partikel yang berlawanan dengan gelombang, dan gelombang bukanlah ketakberaturan dalam sebuah garis.

salam
mimpi bukanlah impian apabila ia menjadi sebuah kenyataan

berita, Awal cerita Akhir derita

Tuesday, 23 March 2010

Kita sepakat bahwa rekreasi memiliki arti penyegaran kembali atau hiburan. Tetapi apakah salah apabila rekreasi kita artikan menciptakan kembali atau membuat ulang?

Kita juga sepakat reproduksi memiliki arti pengembangbiakan atau perbanyakan jasad hidup. Tetapi apakah salah apabila reproduksi kita artikan menghasilkan kembali atau membuat kembali?

Bahasa Indonesia merupakan ubahan dan gubahan bahasa dari berbagai kondisi geografis di muka bumi. Bahasa Indonesia merupakan saduran dan paduan dari berbagai jenis ujaran dari banyak jenis manusia yang menghidupi bumi. Dan bahasa Indonesia adalah bahasa tumpah darah (perjuangan), bahasa kebangsaan (kesatuan), dan bahasa persatuan (komunikasi). Bahasa Indonesia tidak hanya sekedar sekumpulan bahasa atau kumpulan ujaran atau bahasa pemersatu, melainkan memiliki semangat representasi dan interpretasi dari suatu gejala. Rekreasi? Kita bisa memaknainya membuat ulang, ?

Waktu, seiyanya menjadi satu makna dalam mengiringi perjalanan manusia dalam aktivitasnya. Atau jam 12 malam atau jam 00.00 atau jam 24.00 atau jam 12 dini hari, apakah kita memiliki satu bahasa dalam paradigma waktu? Setidaknya semua aktivitas dan kegiatan manusia dilakukan berdasarkan latar yang sama, yakni waktu. Atau jan 12 malam atau jam 00.00 atau jam 24.00 atau jam 12 dini hari seharusnya demikian juga dalam belahan bumi lain, tidak tergantung pada derajat bujur yang memisahkan sistem administrasi yang berjalan. Reproduksi? Kita bisa memaknainya membuat kembali, ?

Kita sepakat, bahasa tidak hanya sekedar lisan, bahasa tidak sekedar ujaran, bahasa tidak sekedar simbol, dan bahasa tidak sekedar tulisan. Bahkan kita juga mengamini bahwa daun yang rontok dari dahan juga termasuk bahasa. Orang tua yang sedang memarahi anaknya adalah bahasa, cara kita bertingkah laku termasuk bahasa, dan diam merupakan bahasa.

Rekreasi, atau membuat ulang niscaya kita lakukan dalam proses kehidupan yang lebih baik. Norma, sistem, hukum, teknologi, dan berbagai bidang kehidupan lain telah berevolusi dan [ber]revolusi untuk menjadi lebih baik. Kita harus senantiasa menyambung tongkat estafet dari generasi pendahulu yang telah menorehkan searah dalam membuat sistem yang baik. Akankah tongkat itu kita buang dan kita jerembabkan pada sikap kita yang tidak mau untuk membuat ulang?

Reproduksi, atau membuat kembali selalu berkaitan dengan arus perbudayaan yang sedang berjalan. Entah peradaban atau masih kebudayaan, peran reproduksi selalu kontingen dengan aksiologi. Tapi seiyanya kontingensi itu selalu mengarah dan menuju pada tataran yang lebih indah (bukan lebih baik apalagi lebih benar).

Kita hanya perlu melihat penanda dari sebuah petanda, hingga akhirnya tanda akan menampilkan dirinya sendiri. Tanda tidak akan berani keluar apabila kita masih memilahkan dengan tegas keberadaan penanda dan petanda. Rekreasi dan reproduksi merupakan relasi dari akar yang merepresentasikan pohon kemanusiaan yang utuh.


salam
kita harus senantiasa prokreasi dan rekreasi, karena perjalanan manusia adalah produksi dan reproduksi

ziarah ke sejarah

Tuesday, 9 March 2010

Kita mendapati, 2660-an tahun yang lalu, logos menempati posisinya dalam menggantikan mitos. Pemilihan dan pemilahan terhadap hal ini dilakukan hingga kekinian. Dimulai dengan sebuah pertanyaan, (dan diakhirikah dengan sebuah pertanyaan juga?) sang bayi belajar merangkak. Dalam perangkakannya dia diklasifikasikan dengan sangat jenius terhadap bidang-bidang permasalahan yang berkaitan dalam arus besar pemikiran manusia. Dan disertai dengan peran manusia dalam hidup dan kehidupan, sang bayi belajar berjalan. Sekitar 610 tahun yang lalu, sang bayi belajar berlari dengan menggenggam sebuah alat yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Ketika masih merangkak sang bayi tidak bisa jauh-jauh dari ibunya. Sang bayi selalu bertanya pada ibunya, siapa dia? apa perannya? mengapa dia ada? bagaimana yang seharusnya? kapan dia lahir? dan dimana lingkungannya? Tentu saja, karena ia masih dekat dengan ibunya, dia mendapatkan jawaban yang penuh dengan kebijaksanaan. Situasi dan kondisi yang ia alami masih sejauh ia merangkak.

Sang bayi-pun berjalan, dan dia mulai berteman dengan berbagai kebaikan dan keburukan dalam pertemanannya. Kini ia agak jauh dengan sang ibu. Awalnya di luar rumah, kemudian berjalan sampai di luar keluarga, dan berjalan lagi entah kemana. Sang bayi menemukan kepastian dalam hal-hal yang dikaji manusia, tetapi ia juga menemukan kesosialan dalam bidang manusia, ditambah lagi dengan kebudayaan dalam peran manusia. Dalam ke-berjalan-annya (bukan perjalanannya) sang bayi berkembang dengan rasionalitas dan fungsionalitas. Tetapi sang ibu mampu mengejarnya, dan memberikan sang bayi minum dikala dia haus.

Sang bayi sudah bisa berlari dengan kencangnya, sang ibu tidak mungkin untuk mengejarnya. Ibunya hanya bisa melihat, anaknya berlari dengan alat-alat kebutuhan manusia. Kini sang ibu tidak mampu memberi minum anaknya. Dengan alat-alat ditangannya sang bayi merasa mampu menguasai segalanya. Dalam keber-lari-annya (bukan pelariannya) dia banyak meninggalkan jejak - dan jejak yang ditinggalkannya saat ia berjalan - berlari pada arah yang berbeda dan dengan tujuan yang berbeda. Sang bayi kini tidak utuh lagi, dirinya terbagi dalam visi kehidupannya.

Dia haus, dia telah meminum samudera ilmu pengetahuan. Dia mampu menciptakan apapun yang dia butuhkan, tetapi dia tidak mampu membutuhkan apa yang dia ciptakan. Dia mampu menjalani kehidupan, tetapi dia tidak mampu menghidupi perjalanannya.


salam
Orang yang tidak mengejar apa-apa akan mendapatkan segalanya, dan ketika ia membuang ego, alam semesta itulah yang akan menjadi ego-nya ()

Probabilitas ke[men]jadian

Wednesday, 3 March 2010

Apabila, suara yang mampu didengar manusia memiliki frekuensi 20 Hz – 20 KHz, gelombang radio memiliki frekuensi 200 MHz – 10 GHz, cahaya tampak memiliki frekuensi 100 THz – 780 THz, dan sinar X memiliki frekuensi 10 PHz – 10 EHz, maka benda yang mampu disentuh manusia seharusnya tidak bergetar. Tetapi apabila manusia mampu bergerak 100 THz, dapat dipastikan ia mampu menangkap petir. Benarkah?

S[u]atu waktu tentunya kita pernah merasakan (memahami dengan perasaan), saat kita memiliki keinginan, seketika itu juga keinginan tersebut hadir dengan proses yang mengesankan. Saat kita mempunyai acara, acara tersebut sukses dengan ketidaktahuan rasional. Saat kita teringat teman lama (jauh), kurang dari 24 jam kita bertemu dengannya. Kita menyebutnya, kebetulan.

Tetapi kita juga pernah mengalami, ketika dalam suatu diskusi, tiba-tiba kita lupa terhadap hal yang kita bicarakan. Ketika kita mengadakan outbond, secara tiba-tiba hujan dan angin datang dengan kencangnya. Ketika kita bepergian, roda kehilangan tekanan udaranya. Dan ketika kita sangat membutuhkan alat elektronik untuk suatu hal, tiba-tiba terjadi ketidakwajaran dalam peralatan elektronik tersebut. Akankah kita masih menyebut, kebetulan?

Kebetulan, kita sering mengungkapkan kata ini sendirian, bahkan terkadang ditemani senyuman. Acapkali kita menganggap koinsidensi dengan menggeli[sah]kan, tertopang apakah mengafirmasi atau menegasi dengan harapan kita. Tetapi juga harus kita sadari, fenomena tersebut tidak terjadi an sich pada diri kita, melainkan terkoneksi dengan yang lain. Posisi ini menjadikan kita mengamini terhadap mysterious coincidences.

Alih-alih konektivitas yang luas, fenomena ini menunjukkan adanya suatu blue print akan sesuatu. Suatu misi terhadap visi yang universal. Tentu saja, hal ini diakibatkan karena kita bukanlah makhluk tunggal yang menghiasi hidup dan kehidupan.
Apakah kebetulan merupakan lema yang berlawanan dengan perencanaan?


salam
Hal itu bukanlah sesuatu yang dapat dikatakan kepadanya, ia harus mencari untuk dirinya sendiri

Peranan dari sebuah Pesanan

Sunday, 28 February 2010

Sesekali kita berperilaku bijaksana saat dihadapan orang banyak,
sejenak kita bertingkah dewasa saat berjumpa kawan baru,
sesaat kita bersikap baik saat bersama orang lain, dan
seringkali kita berwatak benar saat di depan khalayak.
Diantara kita banyak yang tidak menjadi diri sendiri, diantara kita sedikit yang berperan tanpa pesanan.

Sebagian dari kita masih berusaha berperilaku untuk orang lain, kapan kita menjadikan perilaku kita dalam orang lain?
Sedikit dari kita memiliki kelebihan untuk berwujud pada kelompok, kapan kita berwujud pada diri?
Banyak dari kita hidup pada lingkungan dunianya, kapan kita hidup untuk lingkungan dunia kita?

Dunia bukanlah panggung sandiwara yang kita bisa menjadi sesiapa saja. Dunia adalah ruang-waktu yang menjadikan kita ada, tunggal, dan memiliki fungsi personal. Kita berperilaku bukanlah 'dipesan' oleh yang lain, tetapi karena perilaku kita menyertakan diri kita.

salam
Kau bukanlah bintang kejora, kau adalah bintang kecil.
Karena kau bukan penerang, kau adalah perhiasan.

purna

Friday, 19 February 2010

Setiap manusia terlahir dengan kesempurnaan, karena manusia adalah makhluk sempurna.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sempurna memiliki arti utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela); selesai dengan sebaik-baiknya; dan teratur dengan sangat baiknya.

Kemudian apakah sempurna itu apabila:
Seseorang menguasai semua mata pelajaran sewaktu ia bersekolah?
Berat badan yang dimiliki sama dengan tinggi badan dikurangi 110?
Kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat?

Manusia diadakan lengkap dengan segala perangkatnya. Ketidaktahuan seseorang merupakan bentuk kesempurnaan dalam dirinya, dan keterbatasan manusia merupakan hal yang menunjukkan bahwa manusia itu sempurna. Apabila manusia tak terbatas, maka kita menyebutnya dengan ubermensch, bukan manusia.

Kasualistis menjadikan manusia terpesona dan bertanda tanya. Keterlibatan alam dalam membentuk manusia menjadikan perbedaan yang sangat dalam diri manusia. Tentunya manusia merupakan makhluk unik, karena perbedaannya sekaligus kesempurnaannya. Perbedaan karena aktus yang terwujud dan sempurna karena potensi peranannya.


salam
aku hanya manusia biasa, syukurku yang biasa, maka keinginanku pun harus yang biasa pula

Ketika s[u]atu hari

Thursday, 24 December 2009

Seiyanya alam menjadi acuan bagi peradaban manusia untuk menentukan perhitungan waktu untuk kebudayaannya. Matahari, bulan, bintang, angin, ombak, binatang, musim, dan pergerakan benda langit merupakan beberapa pedoman manusia untuk menetapkan - yang kita sebut - kalender.
Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun adalah batasan waktu yang dibatasi oleh angka, kemudian kita mengenalnya dengan tanggal. Beberapa manusia tentunya 'mengistimewakan' minimal satu hari (tanggal tertentu), sebagai peringatan akan sesuatu.

Ap(d)akah ulang tahun? saya lebih senang menyebutnya dengan 'ulang tanggal'
Ap(d)akah hari raya?
Ap(d)akah hari anti korupsi?
Ap(d)akah hari Batik?
Ap(d)akah hari AIDS?
Ap(d)akah hari Ibu?

Angka dalam kalender tentunya hanya sebuah pajangan dalam pemudahan sistem administratif. Batasan hari-hari tertentu, tentunya hanya sebuah pajangan dari peran sosial. Dan memperingati dari sebuah peringatan merupakan alienasi dari keterlibatan ingatan.
Sekali lagi kita membuat batas dari suatu batasan yang bersifat terbatas. Kita dipaksa untuk mengingat tanggal lahir kita, tetapi kita lupa akan kondisi kelahiran kita. Kita dipaksa untuk memperingati hari Ibu, tetapi kita lupa mengapa kita terlahir dari ibu kita.

salam
Selamat ulang tanggal, setelah dua hari saat ibu mendapat ucapan hari dari anak-anaknya, esok.

ranah Kekunoan dalam tataran Kekinian

Monday, 7 September 2009

Spiritual, sesosok ranah ‘ada’ dalam lingkungan alam semesta. Ranah ini memiliki corak meta atau adi suatu entitas. Kondisi ini tak terbatas pada hal-hal yang tidak mampu diindra melainkan juga spektrum situasi dimana pengetahuan manusia saling berkelindan untuk dimaknai secara rasional. Distansi entitas [ke]ada[an] hal ‘melampaui’ ini mengakibatkan adanya suatu intervalisasi [ke]berada[an] dalam gudang pengetahuan manusia bersemayam. Hal ini menjadikan posisi pengetahuan pada sifat spasial temporal yang nantinya akan berkembang pada struktur hirarkis. Apabila diandaikan terdapat hal utama dan pertama dalam segala yang ada pada manusia, maka struktur ini dipandang sebagai pola vertikal pada ranah-ranah horison reaksi manusia terhadap aksi alam yang sebelumnya mengambil posisi manusia untuk ‘menguasai’ ruang-waktu. Spiritualitas akhirnya menjadi perlu dan wajib untuk dirasionalisasikan, sebagai balasan untuk alam, dan nanti akhirnya menunjukkan keutamaan pengetahuan sebagai pedoman manusia untuk bereaksi demi kelangsungan hidupnya.

Memarginalkan spiritualitas, adalah hal yang terjadi pada fragmentasi pengetahuan-pengetahuan manusia terbahasakan. Sekat-sekat ini dapat dikatakan sebagai prarasional, rasional, dan transrasional. Bagian yang mengeliminasi spiritualitas pada tatanan pengetahuan manusia terletak pada ranah rasional, yang nantinya wilayah sains dan logika akan mengambil alih. Dengan tak bergeming pada fragmen itu, menandakan bahwa wilayah prarasional dan transrasional adalah menempatkan pengetahuan atau menunjukkan keberadaan yang sama, yakni nonrasional. Akhirnya menjadi agak terang bahwa gradasi pengetahuan itu terbukukan pada aliansi rasional dan nonrasional, meskipun secara hirarki keberadaan rasional ada setelah dan sebelum nonrasional. Hal ini sekali lagi menunjukkan bahwa spiritualitas menempati posisi metarasional, artinya ia mampu untuk menjadi prarasional atau juga mampu untuk menjadi pascarasional.

Dalam spektrum epistemologi, rasional dan nonrasional merupakan wujud yang berjalinkelindan terhadap peradaban kekunoan dan kekinian pada tataran bahasa. Semesta bukanlah lahan untuk dipersepsi, tetapi cenderung untuk diinterpretasi. Alih-alih masuk akal atau tidak, manusia memiliki jiwa yang mampu menganalisa tiap pengetahuan dengan bijaksana.

salam
bahasa bukanlah wujud janggal atau benar, melainkan tataran bi[a]sa dalam pengalaman manusia

Ajakan dari sebuah Ejekan

Saturday, 5 September 2009

Alkisah, seorang raja memberikan pilihan kepada salah satu menterinya, atau kekayaan atau kebijaksanaan, dan sang menteri memilih kekayaan. Pilihan menteri ini tentu saja sangat beralasan. Pilihan itu diambil karena dia belum meiliki akan sesuatu tersebut, dan dalam hal ini adalah kekayaan. Karena dia telah memiliki kebijaksanaan.

Kita tidak membutuhkan penghormatan, karena kita telah memiliki kehormatan. Kita tidak ingin memiliki akal, karena akal telah melekat dalam diri. Dan kita tidak membutuhkan kebaikan, karena kebaikan terlibat dalam kehidupan.

Kehidupan sosial telah membuat kita terjerembab dalam dimensi kebersamaan yang senantiasa terbangun ketika kita beraktivitas. Kehidupan sosial bukanlah sosok layar penampakan, yang merekam sikap kita terhadap yang lain. Sikap kita merupakan sikap pribadi yang terbentuk dari dalam, bukan dibentuk dari luar. Arus kehidupan kita bukanlah mata air yang dipengaruhi dari luar, seiyanya arus itu mampu untuk membentuk laut di luar kita.

Terkadang kita butuh informasi dari dunia luar, mengingat cermin memberikan informasi yang salah mengenai kiri-kanan, kita tidak mampu mengetahui diri kita. Pribadi yang utuh bukanlah pribadi yang melepaskan dari semesta yang ada di sekelilingnya, melainkan semesta yang dijadikan penuntun dalam sebuah keutuhan. Dengan saran kita berkembang dan dengan kritikan kita mampu berjalan.

Kita berbuat bukan untuk sekeliling kita, kita beraktivitas bukan untuk semesta di luar kita. Kita berbuat untuk pribadi, pribadi yang mencakup semesta. Sikap yang tergradasikan dari ke'ada'an.

salam
balas dendam merupakan salah satu jenis keadilan, yang liar

bencana Ilmu atau bencana Alam

Thursday, 3 September 2009

inilah yang kita tahu
segala benda itu menyatu
seperti hubungan darah
mengikat seluruh keluarga

yang terjadi pada bumi
terjadi juga pada semua penghuni
manusia tidak merajut jaring kehidupan
ia hanyalah secarik benang yang ada padanya
apapun yang ia lakukan pada jaring itu
akan mengena pada dirinya sendiri
(Ted Perry)


Anthroposentris telah menjadikan bumi sebagai peng'ada' kedua dalam eksistensi alam. Hal ini dimulainya klasifikasi pengetahuan dalam ranah kemanusiaan. Ilmu yang membatasi diri pada ranah indrawi dan rasional, menjadikan ketakterlibatan interaksi antara manusia dengan alam.

Ilmu telah dimanfaatkan manusia untuk memenuhi keserakahan manusia akan kebutuhan. Ilmu dengan setia menemani perusakan bumi oleh manusia. Ilmu dijadikan alat legitimasi demi kehidupan manusia yang lebih baik (bukan lebih benar).

Alam harus diburu dalam sifatnya yang liar, dipasung untuk melayani dan dijadikan budak. Ia harus dikerangkeng dan disiksa agar memberikan rahasia-rahasianya. (Francis Bacon)



Gaia akan selalu berautopeiesis pada titik ketakseimbangan yang ada pada dirinya. Manusia memiliki posisi yang sama dengan entitas yang lain, kepunahan manusia, keseimbangan bumi?

ilmu, atau knowledge atau science
ilmu, atau etimologi atau pragmatis
ilmu, atau esensi atau eksistensi

salam
ilmu akan terwujud dengan tindakan, dan tindakan akan mewujud apabila dilatari ilmu

Moral, amoral, atau imoral

Monday, 31 August 2009

Benarkah apabila semua rumus fisika (dalam kerangka tiga dimensi) akan kembali pada hukum kedua Newton, F=ma?
Benarkah apabila kita memakai teori kohomologi dalam kependudukan, maka hasilnya jumlah manusia semakin berkurang?
Benarkah apabila kita membuat segitiga dalam permukaan bola, maka ketiga sudutnya bisa 90 derajat?
Benarkah apabila kita melihat lukisan dengan paradigma kriptologi, maka yang terlihat adalah sebuah kata-kata?
Benarkah apabila kita menghitung percepatan kereta dan mobil dengan perhitungan kalkulus, maka selamanya kedua benda besi itu bergerak dengan kecepatan yang sama?
Benarkah apabila kita memakai akal biner, maka 1+1 bukan sama dengan 2 ?

Apabila kita melihat diri kita di cermin, maka kita akan serasa melihat diri kita, cermin tidak mungkin berbohong. Tetapi cermin juga menunjukkan posisi yang salah pada diri kita, bagian kiri terletak di sebelah kanan dan demikian sebaliknya, cermin juga berbohong.

Paradigma, merupakan hal yang akan memberi nilai pada tiap karakter, status, aktivitas, dan peran dalam masyarakat. Pembuktian merupakan derivasi dari paradigma ilmiah yang harus menunjukkan pada kebenaran. Tetapi apakah kebenaran itu selamanya bisa ditunjukkan? Matahari tidak membutuhkan api lilin untuk menunjukkan dirinya. Tidak perlu adanya pembuktian, suatu saat kebenaran akan terungkap.

Salam
Sebagian besar orang akan berusaha untuk mengubah dunia, tetapi saya akan berusaha untuk mengubah diri

Puasa atau terPaksa

Wednesday, 26 August 2009

Masih saja, di televisi banyak yang demam Ramadhan. Bahkan para “ahli agama” pun juga terjebak pada kondisi ini.

Bulan Ramadhan, menjadi lahan bisnis bagi orang-orang entertainment dalam budayanya. Bulan ini menjadikan tayangan-tayangan televisi menjadi monoton dengan acara-acaranya yang bertemakan religi Islam. Bulan ini juga melambungkan orang-orang yang pandai agama menjadi artis, menjadikan mereka bintang sinetron dari acara seputar Ramadhan. Perbedaan menjadi semakin kentara dengan adanya perubahan posisi dalam suatu negosiasi, sang artis menjadi ahli agama, dan seorang ahli agama menjadi artis.

Bulan Ramadhan adalah bulan suci, bulan yang penuh berkah, bulan dimana derajat kebaikan mendapat perhitungan yang lebih, bulan dimana 1000 setan dibelenggu dan 1000 malaikat diturunkan ke bumi, bulan dimana ampunan diberikan pada orang-orang yang meminta ampun,….kata mereka.

Tetapi apakah demikian beradanya, mengapa pada bulan non-Ramadhan mereka tidak bersuara; bulan dosa, bulan ampunan tidak diberikan, bulan dimana 1000 setan dikeluarkan dan 1000 malaikat dikerangkeng, bulan kesia-siaan, aneh…..sungguh aneh.

Padahal dalam puasa sudah melekat makna ikhlas, padahal dalam puasa ada makna menahan diri, dan pada puasa sudah terdapat makna permintaan. Maaf, adalah hal yang wajar kita minta. Tetapi seringkali maaf diposisikan berbeda dengan sesuatu yang kita minta. Ampunan, petunjuk, dan harapan adalah hal yang biasa kita pinta, tetapi maaf? kita memliki paradigma lain tetntangnya.

Mengapa bulan Ramadhan lebih suci dari bulan yang lain?
Bagaimana kalau kondisi bulan non-Ramadhan sama dengan bulan Ramadhan?
Bagaimana jika logika mengenai bulan di balik?

Seiyanya, bulan Ramadhan bulan tontonan, bukan tuntunan. Bulan yang tepat acara televisi mengenai Islam, bulan yang tepat untuk berdagang, bulan yang tepat untuk menunjukkan “saya Islam”.

Salam
puasa yang terlibatkan

SUARA atau SARA

Saturday, 15 August 2009

kala SD.........
Saya diberitahu oleh guru bahwa Soekarno dan Hatta adalah proklamator kemerdekaan Republik Idonesia. Mereka membacakan sebuah kalimat panjang yang disebut dengan proklamasi. Proklamasi ini membawa Indonesia sebagai bangsa merdeka, bangsa yang memiliki kemandirian tanpa adanya intervensi asing dalam pengambilan kebijakan-kebijakannya.

ketika SMP.......
Saya mendapatkan pengetahuan baru, ternyata Soekarno dan Hatta ketika membacakan teks Proklamasi bukanlah keinginan sendiri, melainkan desakan dari para pemuda yang melihat “vacuum of power” sebagai imbas dari perang dunia kedua. Perhelatan begitu hebat antara golongan muda dengan golongan tua, sekedar untuk memutuskan kapan Proklamasi dilaksanakan.

waktu SMA........
Hal baru yang saya dapat, ternyata Proklamasi tersebut juga mendapat ijin dari petinggi negara “penjajah”. Hal ini cukup menohok, karena Proklamasi bukanlah sesuatu yang diperjuangkan, melainkan pemberian. Jadi pertarungan yang terjadi antara golongan tua dengan golongan muda merupakan hal yang “merugi”, karena dilaksanakan pada saat itu atau kapan pun hasilnya akan sama saja, Indonesia akan merdeka.

saat KEKINIAN........
Baik golongan tua maupun golongan muda ternyata dikendalikan oleh suatu organisasi pembentuk kemerdekaan sebuah negara. Keterlibatan ini tidak dilakukan secara langsung melainkan melalui paradigma dan visi dunia. Pandangan yang menunjukkan adanya hak-hak yang diakui, pandangan kebebasan berpendapat, dan pandangan kebebasan dari penjajahan bangsa asing. Agak berat menerima kenyataan ini, tetapi harus diakui, bagaimana cara kita berfikir, mengapa kita berfikir, dan tindakan apa yang harus dilakukan, pada saat itu, merupakan rancangan yang dibentuk.

kemudian.......
Golongan muda telah membuat 17 Agustus merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Pemuda memiliki peran penting dalam penancapan tonggak sejarah di Indonesia. Pemuda menduduki posisi teratas dalam materi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kini, pemuda berjuang agar suaranya selalu didengar oleh pemerintah-pemerintah agar cita-cita Indonesia tercapai dan tergapai. Dari berakhirnya perang dunia kedua sampai sekarang, perubahan (kebijakan) pemerintah selalu diawali dengan hadirnya suara pemuda di jalan-jalan. Pemuda, melalui nilai-nilai yang diperjuangkannya, menjadi peng-awal dari hadirnya pergantian atmosfer politik pemerintahan, yang tentu saja akan berimbas pada kemakmuran rakyat di sekitar khatulistiwa.

kemungkinan.......
Nilai-nilai seperti apa yang kita perjuangkan?
Ketika kita bersuara, logika apa yang kita pakai, apakah logika biner atau logika fuzzy?
Ketika kita berjuang, etika apa yang kita pakai, apakah etika deontologi atau etika utilitarian?
Ketika kita membela, pihak mana yang kita bela, golongan saya, kemanusiaan, atau keterlibatan entitas pengada?
Terlepas apakah ilmu itu bebas nilai atau terikat nilai, yang pasti, bagaimana kita berfikir, bagaimana kita berujar, dan bagaimana kita bertindak, tidak akan terlepas dari nilai-nilai yang membentuk kita. Mengingat pemuda adalah orang dengan pengalaman setengah, gampang mengikuti emosi-nya, dan terlalu asyik dengan puber intelektualnya, membawa kita agar memerhatikan apakah nilai yang kita suarakan merupakan pesanan, rancangan, atau sesuatu bagian dari sebuah konspirasi. Seperti halnya kita mengenal peradaban besar pada masa lalu karena keruntuhannya, apabila tidak runtuh, kita tidak akan mengenalnya, karena mereka berdampingan dengan kita sekarang ini.

bukanlah........
Kemakmuran seperti apa yang kita perjuangkan demi bangsa ini?
Kesejahteraan seperti apakah yang ingin ada pada setiap penduduk Indonesia?
Kebaikan (ketidak berpihakan) apakah yang akan menjadi hukum di Indonesia?

melainkan......
Apa yang membentuk paradigma saya?
Mengapa saya memiliki paradigma ini?
Latar apa yang membuat saya memiliki nilai ini?

salam
demokrasi tidak mengakhiri konflik, ia hanya menggeser konflik dari tataran fisik ke tataran mental

Pertandingan atau Perbandingan

Tuesday, 11 August 2009

Kemenangan atau sekedar perbandingan?

Kemarin, hari kesembilan pada bulan delapan 2009, saya menjadi staff ahli dari seorang juri yang memiliki kewenangan tertinggi dalam menentukan kemenangan lomba kebersihan lingkungan. Keseluruhan rombongan dewan penilai itu, yang berjumlah 12 orang, berjalan menyusuri jalanan tiap rumah dan kami mendapatkan lingkungan yang sangat bersih, berbeda dengan hari sebelumnya. Di lain tempat, kami menemukan kondisi yang seadanya, para warga tidak bergiat membersihkan lingkungan. Kondisi di tempat itu sama dengan hari-hari sebelumnya.

Singkat cerita, dari kriteria penilaian yang ada pemenangnya bukanlah dari warga yang memiliki kondisi sangat bersih atau kondisi yang rapi, melainkan dari seorang warga yang mampu mengatur situasi rakyat sekitar dan meregulasi warga disekitar tempat tinggal dia untuk bekerja dan pelayanan yang sigap. Jejak yang ada pada hari itu menorehkan sebuah pertanyaan, apakah kemenangan itu?

Apakah kemenangan itu?

Adakah juara kedua dalam perlombaan?

Apakah kualitas bisa sekedar dinilai dengan “angka”?

Kita mengenal malam hari karena ada siang hari, kita mengenal laki-laki karena ada perempuan, kita mengetahui kanan karena ada kiri. Andaikan tidak ada siang hari, tidak ada perempuan, tidak ada kiri, apakah kita akan mengetahui situasi oposisinya?

Kita mengetahui pemenang karena ada yang kalah, coba kita berfikir, tidak ada yang kalah, apakah pemenang itu bisa disebut pemenang? Mengapa perlu diadakan juara kedua, apakah juara kedua itu benar-benar juara? Bagaimana kita mengetahui sang juara menempati posisi tertinggi, dari angka? Apakah kualitas seseorang bisa ditentukan dari angka, apakah itu tidak merujuk pada kuantitas?

Hampir di setiap pertandingan atau perlombaan atau segala hal yang berkaitan dengan hal itu, menggunakan kriteria dan menorehkan angka untuk memberi penilaian. Kemudian angka tersebut kita bandingkan dengan angka lain dan tentu saja angka tertinggi memiliki hak untuk mendapatkan gelar sang juara. Sesederhana itu, semudah itu.

salam
Menang Tanpa Mengalahkan

ketiadaan - keadaan

Friday, 7 August 2009

manakah yang lebih hakiki, gelap atau terang?
manakah yang lebih sejati, kebaikan atau keburukan?
manakah yang lebih pasti kebenaran atau kesalahan?
manakah yang lebih diakui, keindahan atau kejelekan?

manusia merupakan makhluk spiritual yang bermateri, menjalani kehidupan di permukaan bumi dengan segenap hukum alam yang berlaku, tanpa kecuali mengikat seluruh entitas pengada alam semesta.
manusia merupakan makhluk yang mengemban akal, menjadikan dia kemampuan memiliki penilaian terhadap sesuatu, memiliki pengetahuan bagi sesuatu, dan memiliki pembelajaran bagi sesuatu.

apakah tanya, apakah nyata?
apakah ada, apakah tiada?